ADS

Waskita Jawi Ajarkan Anak Jalanan Wira Usaha dan Ngaji





Terdengar suara mengaji di salah satu rumah di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Brotonegaran, Kecamatan Ponorogo. Terlihat puluhan anak-anak jalanan berkumpul, mereka sibuk mengaji kitab yang diajarkan oleh Muhamad Zizulhak Samsul Falaqi.

Anak-anak itu diajarkan mengaji oleh komunitas Waskita Jawi yang didirikan oleh Muhammad Zizulhak Samsul Falaqi. Selain diajarkan mengaji, di rumah yang tidak terlalu luas tersebut mereka juga diajari membuat blangkon.

Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari kain batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa.

"Ada alasan sendiri bagi kami mengajari anak-anak belajar membuat blankon," kata Muhammad Zizulhak Samsul Falaqi, membuka percakapan pada Kamis (9/5/2019).

Menurutnya, blangkon memiliki nilai jual tinggi mulai dari Rp 200 ribu hingga jutaan rupiah. Keuntungan membuat blankon bisa digunakan membiayai kehidupan 160 santri yang bertempat tinggal di rumah komunitas Waskita Jawi.

"Para santri disini bebas mengaji dan tinggal tanpa dipusingkan dengan biaya pendidikan. Karena kita membuat blankon itu," jelas Gus Gondrong, sapaan akrab Muhammad Zizulhak Samsul Falaqi.

Blangkon-blangkon dari Waskita Jawi tersebut dijual hingga ke luar negeri, seperti Jepang, Malaysia, Brunei dan Turki.

Selain itu, santri diajarkan membuat blangkon agar dapat meneruskan warisan budaya Jawa. Sebab, saat ini semakin jarang generasi penerus bisa membuat blangkon.

"Disini santri juga dididik untuk belajar Bahasa Arab supaya lebih memahami makna Al-Quran dan juga diajari kepribadian yang berlandaskan agama dari berbagai kitab," ujarnya.

Ia menyebutkan harapan besar untuk anak didiknya. Yakni mereka bisa hidup dengan memiliki karya. Seperti blangkon dan diajari membatik.

"Anak-anak harus punya skill serta punya kepribadian baik agar tidak mudah dipengaruhi hal-hal buruk," jelasnya.

Wildan Baihaki, salah satu santri mengaku mendapatkan berbagai manfaat saat mondok disini. Dengan mengikuti pondok Waskita Jawi, dirinya sudah tidak tergantung dengan kehidupan jalanan.

"Kami diajari kegiatan kegiatan mingguan juga rutin dilakukan seperti ngaji, kegiatan literasi dan kajian keimuan baik agama maupun umum," katanya.



***




jatimnow dot com
Editor: Sandhi
Reporter: Mita

No comments

Dilarang Komentar SARA, Melecehkan, merendahkan pihak lain...