ADS

Buah Simalakama Peraturan Balon Udara



Hari raya identik dengan tradisi menerbangkan balon udara. Disiapkan jauh hari demi mengisi lebaran penuh suka cita. Kini, banyak aturan yang menyertainya. Agar tradisi tahunan di Bumi Reyog itu tak mengundang bahaya.

Somad (bukan nama sebenarnya) masih ingat dengan balon udara yang diterbangkannya kali pertama. Sejak masih berusia lima tahun, pria 30 tahun itu tak pernah absen merayakan lebaran dengan menerbangkan balon udara. Begitu melayang, ia dan teman-temannya senang bukan kepalang. ‘’Dulu, momen itu (menerbangkan balon udara) selalu ditunggu-tunggu,’’ kenangnya.

Dulu, mayoritas balon udara yang dibuat tak se-raksasa sekarang. Pergeseran ukuran mulai berlangsung sejak tujuh tahun terakhir. Seluruh pemuda di lingkungan desa seolah berlomba membuat balon udara berukuran raksasa. Soal biaya bukan menjadi masalah. Tidak jarang sumbangan bersumber dari pemuda yang menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI). ‘’Besar biayanya. Buatnya juga melibatkan banyak pemuda,’’ lanjutnya.

Pemuda di lingkungan Somad pernah membuat balon udara berukuran 15 meter. Biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 3 juta. ‘’Buatnya gotong-royong. Bergantian tiap malam sehabis salat tarawih,’’ ungkapnya.

Balon raksasa itu pun menghabiskan sedikitnya empat pak plastik kresek gelondongan. Tiap pak-nya berisi gelondongan kresek sepanjang 100 meter. Plastik kresek dipotong sesuai ukuran yang dikehendaki. Kemudian direkatkan menggunakan lakban. ‘’Setelah terbentuk balon, barulah membuat kerangka lingkaran dari bambu,’’ sambungnya.

Untuk balon seukuran raksasa itu, dia membuat kerangka lingkaran berbahan bambu dengan diameter tiga meter. Kemudian membuat sumbu berbahan pakaian bekas seukuran kepala anak-anak. Kemudian, sumbu direndam minyak tanah semalam. Agar merasuk ke seluruh pori-pori kain dan bertahan lama saat diterbangkan. ‘’Barulah keesokan harinya sumbu diangkat dan dipasang,’’ tuturnya.

Balon udara dibuat sepekan hingga tiba lebaran. Terakhir, sumbu diikat kawat dan dikaitkan kerangka bambu. Untuk menerbangkannya, balon udara diisi asap dari pembakaran daun dan batang pohon kepala kering. Lama pengisian biasanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. ‘’Kalau sudah penuh, balon udara menggelembung,’’ imbuhnya.

Selama masa pengisian asap, para pemuda memegang kerangka bambu untuk menahan agar balon udara tidak melayang. Balon udara yang telah sepenuhnya terisi asap tampak menggelembung. Para pemuda pun kemudian melepaskan pegangan secara bersamaan. Balon udara bebas terbang diiringi teriakan dan tepuk tangan. ‘’Sekarang sudah tidak ada lagi. Mulai sadar kalau membahayakan,’’ tegasnya.

Sejak tahun lalu, dia bersama pemuda lain sudah menghentikan perayaan tersebut. Mereka sadar, dampak buruk yang ditimbulkan tidak dapat dibayar oleh apapun. Tak sepadan dengan kesenangan sesaat yang diperoleh ketika menerbangkan. ‘’Lebih baik kami mencari kegiatan lain yang lebih positif,’’ ucapnya.


***




(mg7/fin)
Radar Madiun

No comments

Dilarang Komentar SARA, Melecehkan, merendahkan pihak lain...