ADS

Jelang Pemilu, Banyak Calon Tempuh Cara Irasional





Setiap kontestan pemilu tentu ingin memenanginya. Pun dalam Pemilu 2019 yang dihelat 17 April mendatang. Hingga tak sedikit yang menempuh berbagai cara demi bisa tersenyum bahagia setelah hari pemungutan suara. Budaya memang erat memengaruhi kehidupan berpolitik di tanah air. Meski terkadang irasional.

———————————-

Selama berpuluh tahun menjaga makam, Sunardi pun akrab dengan beberapa wajah yang acap datang ketika momentum tertentu. Termasuk menjelang pemilihan umum (pemilu). ‘’Malah ada yang dari luar daerah juga,’’ katanya.

Makam Batoro Kathong merupakan salah satu komplek pemakaman tua di Ponorogo. Di dalamnya, para leluhur yang pernah memimpin Bumi Reyog dimakamkan. Warga setempat acap menziarahinya. Pengunjung dari luar daerah juga ada setiap hari. ‘’Selalu meningkat ketika menjelang Ramadan atau momentum seperti sekarang ini (jelang pemilu),’’ ujarnya.

Sunardi enggan menyebut nama-nama caleg yang acap ziarah di makam yang dijaganya itu. Beberapa di antaranya, tokoh yang cukup dikenal di Ponorogo. Bahkan, juga caleg dari luar daerah. ‘’Ya ada, tapi tidak perlu disebut namanya. Rata-rata datang berombongan,’’ ungkapnya.

Umumnya, lanjut Sunardi, peziarah makam Bathoro Katong didampingi penasihat spiritual yang memimpin doa berjamaah. Atau minta bantuan juru kunci sepertinya. Mereka tidak diperlakukan secara khusus. ‘’Kalau ingin masuk ke makam  waktunya dibatasi,’’ ujarnya. ‘’Prinsipnya kami tidak melarang maupun membatasi, siapa pun boleh ziarah di makam ini,’’ imbuh Sunardi.

Sejatinya, ada banyak situs bersejarah lain di Bumi Reyog selain makam Bathoro Katong. Situs-situs tersebut juga cukup sering dikunjungi peziarah. Termasuk, dari kalangan caleg. Beberapa tempat itu berada di Kecamatan Babadan dan Pulung.

Pengamat politik Unmer Madiun Mudji Rahardjo tak menampik adanya fenomena unik jelang pemilu ini. Termasuk, caleg depresi yang sudah diantisipasi sejumlah rumah sakit di eks Karesidenan Madiun. Menurut dia, wajar jika ada caleg depresi di tengah kontestasi politik yang memang begitu keras di tanah air.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa berpolitik di Indonesia butuh biaya besar. Bahkan untuk tingkat daerah sekali pun. ‘’Kondisi ini memang erat kaitannya dengan cost atau biaya politik yang memang cukup tinggi di Indonesia,’’ sebut Muji.

Itu lantas mendorong sebagian caleg menempuh cara-cara tak lazim, seperti menemui dukun misalnya. Itu karena caleg sudah tidak lagi bisa berpikir realistis dan rasional. ‘’Kembali lagi, karena biaya berpolitik yang tinggi. Jadi sepanjang sistem ini tidak berubah, siapa pun berpeluang bertindak tidak rasional, demi mencapai tujuan politiknya,’’ tukasnya. (naz/sat)

***




Radar Madiun

No comments

Dilarang Komentar SARA, Melecehkan, merendahkan pihak lain...