BREAKING NEWS

Monday, November 6, 2017

Di Hongkong, Ada Bakso Rasa Ponorogo



HR dari Kumparan--Win, wanita asal Ponorogo, Jawa Timur, yang membuka usaha restoran Indonesia di Hong Kong punya prinsip yang tak bisa diganggu gugat: makanan yang dijualnya harus memakai bahan utama asli dari Indonesia. Baginya, persoalan rasa tak bisa ditawar-tawar.
Sejak tahun 2010, Win membuka restoran di Hong Kong dengan nama Indo Poper. Terdengar keren bukan? Ada kepanjangannya ternyata. Indo Poper berarti Indonesia Ponorogo Permai.

Win sangat bangga dengan Ponorogo. Karena itu, dia tak ragu memberi nama Ponorogo sebagai nama restoran dan menjual makanan yang menjadi ciri khas daerahnya. Sesuatu yang dibuat dengan penuh cinta, tentu saja hasilnya tak akan mengecewakan. Indo Poper setelah tujuh tahun kini jadi salah satu restoran Indonesia yang paling diminati oleh warga negara Indonesia dan warga lain di Hong Kong.

“Di sini yang paling laku baksonya. Saya nggak bikin di sini, ini impor langsung dari Ponorogo,” ucap Win saat ditemui kumparan, pekan lalu.

Bakso yang dijual Win tak bisa dibuat di Hong Kong. Menurutnya, terdapat perbedaan rasa yang mendasar, saat menggunakan bahan baku untuk bakso dari Hong Kong dan bakso yang diimpor dari Ponorogo.

“Rasa dagingnya juga beda, pokoknya kaya gimana gitu,” ungkapnya.
Setiap pekan, sedikitnya Win harus mengimpor 50 kilogram bahan pokok dari Indonesia. Mulai dari bakso, ikan lele, dan bumbu-bumbu lainnya. Bahan baku untuk akan digunakan untuk menu makanan seperti: Bakso Ponorogo, Ayam Goreng Gepuk, Sate Ayam, Nasi Gurami Goreng, Nasi Lele dan lainnya.

Win menjual makanan itu dengan harga mulai dari 50 dolar Hong Kong sampai 65 dolar Hong Kong atau setara dengan kisaran Rp 85 ribu sampai Rp 110 ribu. Terlihat mahal? Tentu saja. Ini dijual di Hong Kong, di mana segala sesuatunya memang harus mahal.

Harga jual tersebut sebanding dengan biaya sewa tempat yang harus dikeluarkan Win yakni 80 ribu dolar Hong Kong setiap bulan atau setara Rp 140 juta. Belum lagi biaya untuk membayar pegawai dan operasional lainnya.

“Yah untungnya lumayan Mas, sama kaya orang gajian aja,” ucap Win.
Bagi Win, walau tidak banyak keuntungan yang didapat, usahanya di Hong Kong sangat menggembirakan. Dia pernah mencoba pekerjaan yang bersifat kantoran, namun ternyata tidak cocok. Win lebih menyukai dinamika kehidupan restoran dan segala tantangannya.
“Pokoknya biar untung dikit yang penting aman,” harapnya.

Prinsip Win, selama rasa dari Ponorogonya bisa terjaga, pelanggan akan terus datang. Win sadar ada 150 ribu TKI di Hong Kong yang akan rindu akan masakan kampung halaman. Di situlah Win hadir sebagai juru selamat.



Credit: Berita>> http://tinyurl.com/yc9tc8yw  || Gambar>> http://tinyurl.com/y8kg3v3m


Post a Comment

Dilarang Komentar SARA, Melecehkan, merendahkan pihak lain...

 
Copyright © 2017 HR Ponorogo

Powered by HRGroup