BREAKING NEWS

Thursday, October 26, 2017

Meningitis, Bahaya dan Pencegahannya



HRNews dari tirto(dot)id  - 27 Maret 2015, hampir dua tahun lalu, Indonesia dikejutkan dengan kematian Olga Syahputra, salah satu komedian besar yang pernah dipunyai negeri ini. Kepergian Olga menjadi kepala berita di sejumlah media sampai sepekan lebih.

Banyak spekulasi tentang sakit Olga , sebab tak pernah ada kabar resmi yang menyebutkan nama penyakitnya. Namun lama kelamaan tersebutlah nama penyakitnya yaitu meningitis.

Lalu, apa dan bagaimana meningitis itu?
meningitis adalah satu di antara penyakit infeksi saraf paling mematikan yang sering jadi ancaman bagi negeri maju maupun berkembang, seperti Indonesia.

Di Indonesia, menurut data Kementerian Kesehatan Indonesia, pada 2010 jumlah kasus meningitis terjadi pada laki-laki mencapai 12.010 pasien, pada wanita sekitar 7.371 pasien, dan dilaporkan pasien yang meninggal dunia sebesar 1.025.

Di RSUD Dr. Soetomo pada 2010 terdapat 40 pasien didiagnosis meningitis. Sebanyak 60 persen laki-laki dan 40 persen wanita. Dari angka itu, dilaporkan 7 pasien meninggal dunia. Pada tahun 2011, dilaporkan ada 36 pasien didiagnosis meningitis. Sekitar 67 persen pasien laki-laki dan sekitar 33 persen wanita. Sebelas di antaranya meninggal dunia.

Secara sederhana, meningitis adalah peradangan pada membran yang menyelubungi otak dan sumsum tulang belakang. Secara biologi, membran ini disebut meningen. Peradangan ini disebabkan oleh infeksi dari virus, bakteri, mikroorganisme, atau dalam kasus yang jarang terjadi disebabkan konsumsi tak sehat obat tertentu.

Gejala dan Penyebab
Gejala umum yang terjadi pada penderita meningitis adalah sakit kepala, leher kaku disertai demam, kebingungan atau perubahan kesadaran, muntah, fotofobia atau meningkatnya kepekaan terhadap cahaya, dan fonofobia alias kepekaan terhadap suara yang juga meningkat.

Namun, dari 696 kasus yang pernah diteliti, ditemukan tiga gejala yang pasti yang bisa dijadikan indikator pendeteksi dini. Di antaranya adalah demam tinggi tiba-tiba, kuduk yang kaku, dan perubahan mental mendadak.

Pada anak-anak gejala-gejala di atas sering kali luput. Biasanya mereka hanya jadi lebih rewel dan mengeluh sakit kepala. Ciri lain yang mungkin muncul adalah ruam merah pada kulit.

Meski tak seperti selesma atau flu, meningitis juga dapat menular. Biasanya dari ciuman, bersin atau batuk, tetapi tidak bisa disebarkan hanya dengan menghirup udara yang sama dengan penderita meningitis.

Cara Pencegahan dan Pengobatan
Meningitis yang disebabkan virus cenderung bisa sembuh sendiri dan jarang berdampak fatal. Namun jika terjadi pada bayi prematur dan anak baru lahir berusia hingga tiga bulan, 20 hingga 30 persen mungkin meninggal jika sudah terkena meningitis bakterial. Hingga WHO memasukkan meningitis ke dalam lima penyakit paling mematikan untuk anak-anak baru lahir di dunia.

Karena salah satu penyebabnya adalah virus, salah satu cara mencegah terkena penyakit ini adalah dengan vaksinasi. Sejak 1980-an, anak-anak di dunia mulai diberi imunisasi terhadap virus Haemophilus influenzae tipe b, satu dari sekian penyebab meningitis.

Untuk kasus meningitis yang disebabkan bakteri bisa dengan cara lain yaitu pemberian antibiotik, Pemberian ini bisa dilakukan meski kondisi pasien belum dipastikan hasil laboratorium. Sebab, meningitis bakterial bisa bereaksi cepat dan berakibat fatal.

Yang Suka Babi, Hati-hati!
Pemerintah Kabupaten Buleleng Bali melalui Dinas Kesehatannya menemukan 13 kasus yang diduga Meningitis streptococcus suis (MSS) alias meningitis babi yang menjangkiti warganya.

Meningitis babi sendiri adalah jenis meningitis yang ditularkan babi kepada manusia, melalui mikroorganisme yang hidup dalam dagingnya. Penularan ini baru bisa terjadi jika daging babi tersebut tidak dimasak matang.

Wakil Bupati Buleleng I Nyoman Sujira mengatakan, pemerintah daerah Bali langsung bertindak cepat mencegah penyebaran penyakit ini secara lebih luas. “Kami segera bergerak cepat karena kasus meningitis babi pernah terjadi di wilayah Desa Bukti Kecamatan Kubutambahan,” kata Sutjidra, seperti dikutip Antara .

Secara keseluruhan, meningitis adalah salah satu penyakit berbahaya yang risiko kematiannya cukup tinggi. Bahkan pasien-pasien yang sembuh belum tentu tidak terdampak efek lainnya. Ada potensi cacat seperti tuli, epilepsi, dan gangguan kecerdasan yang akan menimpa pasien yang sembuh.***

Dari: tirto(dot)id - aad/msh-


Link asal tulisan di atas, scan kode berikut...


Post a Comment

Dilarang Komentar SARA, Melecehkan, merendahkan pihak lain...

 
Copyright © 2017 HR Ponorogo

Powered by HRGroup