BREAKING NEWS

Friday, October 20, 2017

Dulu Omzet Mencapai Jutaan, Namun Sekarang Tinggal Kenangan


Ponorogo HRNews- Reyog merupakan kesenian tradisional yang sudah menjadi identitas kabupaten Ponorogo. Tiap kali ada pertunjukan reyog, masyarakat selalu tumpah-ruah. Meski demikian, jika dilihat dari sudut pandang pedagang cenderamata yang berkaitan dengan reyog terdapat masalah tersembunyi yang tidak disadari banyak orang

Salah satunya yang dialami ibu Kususiyatin, yang akan diulas dalam tuisan ini.

Kususiatin, 70, pedagang peranti reyog di Pasar Legi Selatan Ponorogo. Perempuan yang sudah jauh dari kata muda itu mengingat kenangan puluhan tahun silam dan Sekarang dia mengeluhkan kiosnya yang makin hari makin sepi pengunjung.

"Saya berjualan sejak 1960. Meneruskan usaha orang tua," tuturnya.

Kususiatin mengatakan, dulu dia berdagang pakaian anak-anak, bahkan tokonya terkenal lengkap dalam hal menyediakan pakaian anak-anak.

Seiring berjalannya waktu dan makin dikenalnya reyog di luar daerah, dia memandang peluang lebih baik akhirnya kususiatin beralih berjualan pernak-pernik yang berhubungan dengan kesenian Reyog. Mulai dari reyog mini, topeng, bujangganong, seragam warok dan jathilan, sampai jaranan.


"Sekarang sepi, sangat jauh dibandingkan dulu," ungkapnya.

Baginya, naik turun jumlah pembeli itu sudah biasa bagi seorang pedagang. Namun, sepi kiosnya saat itu sudah tidak wajar lagi.

Dulu, saat hari besar, dia bisa mendapatkan omzet belasan juta. Namun, sekarang tidak ada separonya. Begitu juga keadaan di hari-hari biasa, Malahan, kata Kususiatin, seharian tidak ada pembeli sama sekalipun pernah dialaminya.

"Sudah banyak juga yang jualan seperti saya ini," ucapnya.

Kususiatin paham dengan sejumlah pedagang lain, di luar Pasar Legi Selatan, yang meniagakan perlengkapan reyog maupun cenderamata khas di Ponorogo.

Munculnya persaingan perdagangan, lanjut Kususiatin, memang sudah bisa diprediksi. Hal ini terjadi tidak hanya di Ponorogo. Dengan begitu, pembeli disediakan banyak pilihan.

"Rezeki sudah ada yang ngatur," pasrahnya.

Kendati turut menjadi sebab turunnya jumlah pembeli, dia tidak semata-mata melihat dari sudut pandang itu saja. Kususiatin juga menyebut diubahnya Jalan Soekarno-Hatta menjadi satu arah menjadi salah satu penyebab pasar menjadi sepi, termasuk kios miliknya.

"Pembeli dari luar daerah lebih tahu yang bejualan di alun-alun. Di sana lebih ramai," ujar Kususiatin.

Ya, Jalan Soekarno-Hatta yang sekarang satu arah menjadi masalah bagi pedagang yang berada di Pasar Legi Selatan. Padahal, Kususiatin sempat berharap banyak saat tempatnya mencari nafkah direnovasi.

Dikatakannya, seusai renovasi ada peningkatan pengunjung dia rasakan. Pasar menjadi lebih tertata dan enak dipandang.

"Maklum pasar baru saat itu, lama-lama ya jadi biasa lagi. Tapi makin parah setelah ada kebijakan satu arah Jalan Soekarno-Hatta. Padahal lebar, tapi kok dibuat satu arah," katanya.(mn/mg8/sib/sib/JPR)
[Disunting Seperlunya dari Jawa Pos]



Untuk link asal atikel di atas, Scan Kode berikut

Post a Comment

Dilarang Komentar SARA, Melecehkan, merendahkan pihak lain...

 
Copyright © 2017 HR Ponorogo

Powered by HRGroup