BREAKING NEWS

Sunday, May 1, 2016

SD Udzur, Roboh



HRNews--
BALEREJO RadarMadiun.co.id– Tak ada angin, tak ada hujan, SDN 2 Simo, Kecamatan Balerejo roboh dengan sendirinya. Setelah empat tahun menjadi ‘rumah hantu’ lantaran tak lagi difungsikan, SD Inpres yang dibangun sejak 1975 itu roboh pada tiga ruang kelasnya.

Kepala Desa Simo, Heru Santoso menuturkan, SDN 2 Simo itu roboh sekitar pukul 08.40 Kamis lalu (28/4). Kuat dugaan, robohnya tiga ruang kelas itu karena lapuk termakan usia. Maklum, sekolah di tepian Jalan Balerejo–Muneng itu usianya sudah lebih dari empat puluh tahun. ‘’Saat warga melakukan bersih-bersih pasca roboh juga didapati fakta bila konstruksi bangunan yang roboh itu tak menggunakan besi sama sekali,’’ ungkapnya.

Heru juga membenarkan bila selama empat tahun terakhir SDN 2 Simo telah ditutup. Sebab semakin tahun sekolah itu semakin kekurangan jumlah siswa. Lantaran lebih memilih bersekolah ke SDN 1 Simo yang berada persis di sebelahnya. ‘’SDN 1 lebih dilirik karena kualitas bangunannya lebih layak dari SDN 2,’’ ujarnya.

Sebelum akhirnya tutup dan roboh itu, SDN 2 Simo baru dua kali disentuh renovasi. Adapun renovasi terakhir sudah sejak 2006 silam. Dari sanalah akhirnya SDN 2 Simo kian ditinggalkan siswanya. ‘’Karena jumlah siswanya dari tahun ke tahun kian berkurang, akhirnya Dindik (Dinas Pendidikan) memutuskan untuk menggabungnya dengan SDN 1 Simo,’’ jelasnya.

Karena sudah tahunan mangkrak, keberadaan SDN 2 Simo itu otomatis mengganggu pemandangan desa setempat. Warga pun sudah mengharapkan agar sekolah yang berdiri di atas tanah kas desa (TKD) itu dirobohkan saja. ‘’Warga khawatir, kondisi bangunannya yang ringkih sewaktu-waktu bisa membuat celaka. Selama ini kan siswa SDN 1 Simo kerap bermain di sana ketika istirahat jam sekolah,’’ ungkapnya.

Pihak desa sendiri belum bisa merespon keinginan warganya yang berharap bangunan SDN 2 Simo yang sudah tak layak pakai itu untuk untuk diratakan dengan tanah. Mengingat sekolah itu merupakan bagian dari aset milik daerah. ‘’Kalau mau dirobohkan silahkan, mau dimanfaatkan lagi ya silahkan. Saya monggo saja. Jika dirobohkan tanahnya otomatis kembali jadi milik desa. Meskipun saat ini belum ada rencana pemanfaatan lahan di sana,’’ tuturnya.

Merger Jadi Solusi Moratorium CPNS
INSIDEN robohnya SDN 2 Simo, Kecamatan Balerejo pada Kamis (28/4) menarik benang merah problem seputar minimnya jumlah guru di Kabupaten Madiun. Mengingat total 1.250 tenaga guru yang ada saat ini masih dipandang minim.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Madiun, Suhardi, menegaskan, jumlah guru yang sudah tembus seribuan tenaga lebih masih dipandang kurang lantaran kini sudah banyak yang pensiun. Tidak tanggung-tanggung, jumlah guru yang pensiun tembus 250 tenaga setiap tahunnya. ‘’Sementara perekrutan tenaga guru sudah terhenti sejak empat terakhir karena kebijakan moratorium CPNS,’’ terangnya.

Atas kondisi itulah, menggabung (merger) sekolah yang dinilai sudah tidak efektif dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM) menjadi solusi terbaik. Sebagaimana yang diterapkan pada SDN 2 Simo yang kini digabung SDN 1 Simo. ‘’Dua sekolah merger jadi satu ini merupakan strategi kami untuk mengatasi kekurangan jumlah guru,’’ urainya.

Soal robohnya tiga ruang kelas SDN 2 Simo kemarin, Suhardi tak ingin terlalu mempersoalkannya. Mengingat gedung sekolah itu sudah lama tak difungsikan lagi untuk KBM. ‘’Untuk sementara ini, gedung sekolah yang roboh kami laporkan ke aset daerah,’’ jelas Suhardi.

Di luar SDN 2 Simo, Dindik juga masih berencana menggabung 19 SD lain di Kabupaten Madiun. Belasan sekolah itu sengaja dimasukkan dalam daftar merger lantaran jumlah siswanya kini tidak pernah tembus 100 siswa. ‘’Sekolah memang sebaiknya di-merger jika jumlah siswa kelas I hingga VI tidak lebih dari 60 siswa. SD yang bakal di-merger itu tersebar di Kecamatan Jiwan, Geger, Wungu, Sawahan dan Mejayan,’’ paparnya.

Namun, Suhardi masih enggan membeberkan kapan rencana menggabung belasan SD yang sudah dipandang tak efektif itu. Dia hanya mengisyaratkan, realisasi merger belasan sekolah itu diupayakan sebelum tutup tahun ini. ‘’Penggabungannya juga dengan sekolah terdekat agar tidak membebani siswa,’’ tandasnya. (mg6/fin/eba)

Post a Comment

Dilarang Komentar SARA, Melecehkan, merendahkan pihak lain...

 
Copyright © 2017 HR Group Ponorogo

Powered by HRGroup