BREAKING NEWS

Friday, April 15, 2016

Kaos Turn Back Crime rawan disalahgunakan, banyak ngaku polisi



HRNews--Sejak melumpuhkan aksi teroris di Thamrin, Jakarta, polisi menjadi sorotan publik. Bukan karena keberhasilannya melumpuhkan para teroris, masyarakat justru 'latah' mengenakan kaos polisi bertuliskan Turn Back Crime.

Karena dianggap keren, tak sedikit masyarakat yang mau mengocek uang sakunya untuk membeli kaos tersebut. Namun, ada juga yang memanfaatkan kaos tersebut untuk melakukan tindak kejahatan.

Kaos disalahgunakan untuk memeras dan menipu orang lain. Baru-baru ini, seseorang bernama Anton Chandra (27) menggunakan kaos Turn Back Crime untuk menipu 13 wanita di bilangan Apartemen Kalibata City, Jakarta.

Pria yang tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini memperdaya wanita pekerja seks komersial (PSK) yang kerap mangkal di Apartemen Kalibata City tersebut. Dia mengaku sebagai perwira menengah di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya untuk mengelabui korbannya.

Parahnya lagi, Anton yang hanya mengandalkan kaos Turn Back Crime pun menyetubuhi korbannya. Usai melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku juga mengambil harta benda korbannya.

Menanggapi hal itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol M Iqbal menilai semua pelaku kejahatan bisa memanfaatkan apa saja agar niat jahatnya terwujud. Termasuk menggunakan kaos Turn Back Crime.

"Semua bisa melakukan kejahatan, enggak usah pakai kaos itu yang pakai seragam polisi aja ada," kata Iqbal saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Jumat (15/4).

Iqbal mengatakan dalam hal ini polisi akan terus mengawasi tindak kejahatan yang menggunakan atribut polisi. Dia memastikan, semua tindak pidana akan diproses dan pelaku akan dihukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya

"Yang jelas apapun tindak pidananya, akan kami proses sesuai hukum yang berlaku," pungkas Iqbal.

Terkait masyarakat yang keranjingan kaos Turn Back Crime sebelumnya pernah dikhawatirkan oleh sejumlah pihak. Salah satunya, Sosiolog Musni Umar yang menyebut budaya 'latah' memakai kaos Turn Back Crime bisa berdampak buruk bagi si pemakai kaos tersebut.

"Nah jadi itu dia tidak melihat apa dampaknya," kata Musni saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

Musni bahkan tidak sepakat jika si pemakai baju khas pasukan Dirkrimum Polda Metro Jaya, Krishna Murti itu seakan terlihat gagah dan membanggakan. Apa lagi, kaos itu digunakan untuk kegiatan sehari-hari.

"Untuk apa kita berbangga kalau tidak memberi manfaat. Ini lebih banyak mudaratnya," tegas Musni.
[dan]


Post a Comment

Dilarang Komentar SARA, Melecehkan, merendahkan pihak lain...

 
Copyright © 2017 HR Group Ponorogo

Powered by HRGroup